Tata Surya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari
Tata surya)
Gambaran umum Tata Surya (digambarkan tidak sesuai skala):
Matahari,
Merkurius,
Venus,
Bumi,
Mars,
Ceres,
Yupiter,
Saturnus,
Uranus,
Neptunus,
Pluto, dan
Eris.
Tata Surya[a] adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah
bintang yang disebut
matahari dan semua obyek yang yang mengelilinginya. Obyek-obyek tersebut termasuk delapan buah
planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk
elips, lima
planet-planet kerdil/katai, 173
satelit-satelit alami yang telah diidentifikasi
[b], dan jutaan benda langit (
meteor,
asteroid,
komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat
planet bagian dalam,
sabuk asteroid, empat
planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah
Sabuk Kuiper dan
piringan tersebar.
Awan Oort diperkirakan terletak di
daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yanng terluar.
Berdasarkan jaraknya, kedelapan planet itu ialah:
- Merkurius (57.900.000 km)
- Venus (108.000.000 km)
- Bumi (150.000.000 km)
- Mars (228.000.000 km)
- Jupiter (779.000.000 km)
- Saturnus (1.430.000.000 km)
- Uranus (2.880.000.000 km)
- Neptunus (4.500.000.000 km)
Sejak pertengahan
2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai
planet kerdil, yang orbitnya - kecuali Ceres - berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet katai itu adalah:
- Ceres (415.000.000 km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima)
- Pluto (5.906.000.000 km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan)
- Haumea (6.450.000.000 km)
- Makemake (6.850.000.000 km)
- Eris (10.100.000.000 km)
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh
satelit alami, yang biasa disebut dengan "bulan" sesuai dengan
Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing dari planet bagian luar dikelilingi oleh
cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.
Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :
- Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh
Immanuel Kant (
1724-
1804) pada tahun
1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh
Pierre Marquis de Laplace pada tahun
1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari
debu,
es, dan
gas yang disebut
nebula. Unsur gas sebagian besar berupa
hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat
gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk
planet dalam. Dengan cara yang sama,
planet luar juga terbentuk.
- Hipotesis Planetisimal
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh
Thomas C. Chamberlain dan
Forest R. Moulton pada tahun
1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
- Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh
James Jean dan
Herold Jaffries pada tahun
1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.
- Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama
G.P. Kuiper (
1905-
1973) pada tahun
1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
- Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh
Fred Hoyle (
1915-
2001) pada tahun
1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. serpihan itu akan terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya
[sunting] Sejarah penemuan
Lima
planet terdekat ke Matahari selain
Bumi (
Merkurius,
Venus,
Mars,
Yupiter dan
Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki
nama sendiri untuk masing-masing planet.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi.
Galileo Galilei (1564-1642) dengan
teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.
Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan
Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori
heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh
Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh
Merkurius hingga
Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti
Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan
Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit
Bumi-
Yupiter.
Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui
Johannes Kepler (1571-1630) dengan
Hukum Kepler. Dan puncaknya,
Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan
hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya
Pada
1781,
William Hechell (1738-1782) menemukan
Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu.
Neptunus ditemukan pada Agustus
1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus.
Pluto kemudian ditemukan pada
1930.
Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya obyek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978,
Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 obyek kecil lain di belakang Neptunus (disebut
obyek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 obyek serupa yang dikenal sebagai obyek
Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari obyek-obyek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya
Quaoar (1.250 km pada Juni 2002),
Huya (750 km pada Maret 2000),
Sedna (1.800 km pada Maret 2004),
Orcus,
Vesta,
Pallas,
Hygiea,
Varuna, dan
2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan
UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya
Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.
Perbanding relatif massa planet. Jupiter adalah 71% dari total dan Saturnus 21%. Merkurius dan Mars, yang total bersama hanya kurang dari 0.1% tidak nampak dalam diagram di atas.
Orbit-orbit Tata Surya dengan skala yang sesungguhnya
Komponen utama sistem Tata Surya adalah
matahari, sebuah
bintang deret utama kelas G2 yang mengandung 99,86 persen massa dari sistem dan mendominasi seluruh dengan gaya gravitasinya.
[1] Jupiter dan
Saturnus, dua komponen terbesar yang mengedari matahari, mencakup kira-kira 90 persen massa selebihnya.
[c]
Hampir semua obyek-obyek besar yang mengorbit matahari terletak pada bidang edaran
bumi, yang umumnya dinamai
ekliptika. Semua
planet terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan obyek-obyek sabuk Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibandingkan ekliptika.
Planet-planet dan obyek-obyek Tata Surya juga mengorbit mengelilingi matahari berlawanan dengan arah jarum jam jika dilihat dari atas kutub utara matahari, terkecuali
Komet Halley.
Hukum Gerakan Planet Kepler menjabarkan bahwa orbit dari obyek-obyek Tata Surya sekeliling matahari bergerak mengikuti bentuk elips dengan matahari sebagai salah satu titik fokusnya. Obyek yang berjarak lebih dekat dari matahari (sumbu
semi-mayor-nya lebih kecil) memiliki tahun waktu yang lebih pendek. Pada orbit elips, jarak antara obyek dengan matahari bervariasi sepanjang tahun. Jarak terdekat antara obyek dengan matahari dinamai
perihelion, sedangkan jarak terjauh dari matahari dinamai
aphelion. Semua obyek Tata Surya bergerak tercepat di titik perihelion dan terlambat di titik aphelion. Orbit planet-planet bisa dibilang hampir berbentuk lingkaran, sedangkan komet, asteroid dan obyek sabuk Kuiper kebanyakan orbitnya berbentuk
elips.
Untuk mempermudah representasi, kebanyakan diagram Tata Surya menunjukan jarak antara orbit yang sama antara satu dengan lainnya. Pada kenyataannya, dengan beberapa perkecualian, semakin jauh letak sebuah planet atau sabuk dari matahari, semakin besar jarak antara obyek itu dengan jalur edaran orbit sebelumnya. Sebagai contoh,
Venus terletak sekitar sekitar 0,33
satuan astronomi (SA) lebih dari
Merkurius[d], sedangkan
Saturnus adalah 4,3 SA dari
Yupiter, dan
Neptunus terletak 10,5 SA dari
Uranus. Beberapa upaya telah dicoba untuk menentukan korelasi jarak antar orbit ini (
hukum Titus-Bode), tetapi sejauh ini tidak satu teori pun telah diterima.
Hampir semua planet-planet di Tata Surya juga memiliki sistem sekunder. Kebanyakan adalah benda pengorbit alami yang disebut satelit, atau bulan. Beberapa benda ini memiliki ukuran lebih besar dari planet. Hampir semua
satelit alami yang paling besar terletak di orbit sinkron, dengan satu sisi satelit berpaling ke arah planet induknya secara permanen. Empat planet terbesar juga memliki cincin yang berisi partikel-partikel kecil yang mengorbit secara serempak.
Secara informal, Tata Surya dapat dibagi menjadi tiga daerah. Tata Surya bagian dalam mencakup empat
planet kebumian dan
sabuk asteroid utama. Pada daerah yang lebih jauh, Tata Surya bagian luar, terdapat empat gas planet raksasa.
[2] Sejak ditemukannya
Sabuk Kuiper, bagian terluar Tata Surya dianggap wilayah berbeda tersendiri yang meliputi semua obyek melampaui Neptunus.
[3]
Secara dinamis dan fisik, obyek yang mengorbit
matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan:
planet,
planet kerdil, dan
badan Tata Surya kecil. Planet adalah sebuah badan yang mengedari matahari dan mempunyai massa cukup besar untuk membentuk bulatan diri dan telah membersihkan orbitnya dengan menginkorporasikan semua obyek-obyek kecil di sekitarnya. Dengan definisi ini, Tata Surya memiliki delapan planet:
Merkurius,
Venus,
Bumi,
Mars,
Yupiter,
Saturnus, dan
Neptunus.
Pluto telah dilepaskan status planetnya karena tidak dapat membersihkan orbitnya dari obyek-obyek sabuk Kuiper.
[4] Planet kerdil adalah benda angkasa bukan satelit yang mengelilingi matahari, mempunyai massa yang cukup untuk bisa membentuk bulatan diri tetapi belum dapat membersihkan daerah sekitarnya.
[4] Menurut definisi ini, Tata Surya memliki lima buah planet kerdil:
Ceres,
Pluto,
Haumea,
Makemake, dan
Eris.
[5] Obyek lain yang mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil adalah:
Sedna,
Orcus, dan
Quaoar. Planet kerdil yang memiliki orbit di daerah trans-Neptunus biasanya disebut "plutoids".
[6] Sisa obyek-obyek lain berikutnya yang mengitari matahari adalah badan Tata Surya kecil.
[4]
Ilmuwan ahli planet menggunakan istilah gas, es, dan batu untuk mendeskripsi kelas zat yang terdapat di dalam Tata Surya.
Batu digunakan untuk menamai bahan bertitik lebur tinggi (lebih besar dari 500 K), sebagai contoh
silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat di Tata Surya bagian dalam, merupakan komponen pembentuk utama hampir semua planet kebumian dan asteroid. Gas adalah bahan-bahan bertitik lebur rendah seperti atom hidrogen, helium, dan gas mulia, bahan-bahan ini mendominasi wilayah tengah Tata Surya, yang didominasi oleh Yupiter dan Saturnus. Sedangkan es, seperti
air,
metana,
amonia dan
karbon dioksida,
[7] memiliki titik lebur sekitar ratusan derajat kelvin. Bahan ini merupakan komponen utama dari sebagian besar satelit planet raksasa. Ia juga merupakan komponen utama
Uranus dan
Neptunus (yang sering disebut "es raksasa"), serta berbagai benda kecil yang terletak di dekat orbit Neptunus.
[8]
Istilah
volatiles mencakup semua bahan bertitik didih rendah (kurang dari ratusan kelvin), yang termasuk gas dan es; tergantung pada suhunya, 'volatiles' dapat ditemukan sebagai es, cairan, atau gas di berbagai bagian Tata Surya.
Zona Tata Surya yang meliputi, planet bagian dalam, sabuk asteroid, planet bagian luar, dan
sabuk Kuiper. (Gambar tidak sesuai skala)
Di zona planet dalam,
Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya paling dekat dengan planet
Merkurius (jarak dari matahari 57,9 × 10
6 km, atau 0,39
SA),
Venus (108,2 × 10
6 km, 0,72 SA),
Bumi (149,6 × 10
6 km, 1 SA) dan
Mars (227,9 × 10
6 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya antara 4.878 km dan 12.756 km, dengan massa jenis antara 3,95 g/cm
3 dan 5,52 g/cm
3.
Antara Mars dan
Yupiter terdapat daerah yang disebut
sabuk asteroid, kumpulan batuan metal dan mineral. Kebanyakan asteroid-asteroid ini hanya berdiameter beberapa kilometer (lihat:
Daftar asteroid), dan beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih.
Ceres, bagian dari kumpulan asteroid ini, berukuran sekitar 960 km dan dikategorikan sebagai
planet kerdil. Orbit asteroid-asteroid ini sangat eliptis, bahkan beberapa menyimpangi
Merkurius (
Icarus) dan
Uranus (
Chiron).
Pada zona planet luar, terdapat planet gas raksasa
Yupiter (778,3 × 10
6 km, 5,2 SA),
Uranus (2,875 × 10
9 km, 19,2 SA) dan
Neptunus (4,504 × 10
9 km, 30,1 SA) dengan massa jenis antara 0,7 g/cm
3 dan 1,66 g/cm
3.
Jarak rata-rata antara planet-planet dengan matahari bisa diperkirakan dengan menggunakan
baris matematis Titus-Bode. Regularitas jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini kemungkinan merupakan efek resonansi sisa dari awal terbentuknya Tata Surya. Anehnya, planet
Neptunus tidak muncul di baris matematis Titus-Bode, yang membuat para pengamat berspekulasi bahwa Neptunus merupakan hasil tabrakan kosmis.
Matahari dilihat dari spektrum sinar-X
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama sistem Tata Surya ini.
Bintang ini berukuran 332.830 massa
bumi. Massa yang besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa mendukung kesinambungan
fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi yang dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi eletromagnetik, termasuk spektrum optik.
Matahari dikategorikan ke dalam bintang kerdil kuning (tipe G V) yang berukuran tengahan, tetapi nama ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, karena dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di dalam galaksi Bima Sakti, matahari termasuk cukup besar dan cemerlang. Bintang diklasifikasikan dengan
diagram Hertzsprung-Russell, yaitu sebuah grafik yang menggambarkan hubungan nilai
luminositas sebuah bintang terhadap suhu permukaannya. Secara umum, bintang yang lebih panas akan lebih cemerlang. Bintang-bintang yang mengikuti pola ini dikatakan terletak pada
deret utama, dan matahari letaknya persis di tengah deret ini. Akan tetapi, bintang-bintang yang lebih cemerlang dan lebih panas dari matahari adalah langka, sedangkan bintang-bintang yang lebih redup dan dingin adalah umum.
[9]
Dipercayai bahwa posisi matahari pada deret utama secara umum merupakan "puncak hidup" dari sebuah bintang, karena belum habisnya hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir. Saat ini Matahari tumbuh semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat kecemerlangannya adalah sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang.
[10]
Matahari secara
metalisitas dikategorikan sebagai bintang "populasi I". Bintang kategori ini terbentuk lebih akhir pada tingkat evolusi
alam semesta, sehingga mengandung lebih banyak unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium ("metal" dalam sebutan astronomi) dibandingkan dengan bintang "populasi II".
[11] Unsur-unsur yang lebih berat daripada
hidrogen dan
helium terbentuk di dalam inti bintang purba yang kemudian meledak. Bintang-bintang generasi pertama perlu punah terlebih dahulu sebelum alam semesta dapat dipenuhi oleh unsur-unsur yang lebih berat ini. Bintang-bintang tertua mengandung sangat sedikit metal, sedangkan bintang baru mempunyai kandungan metal yang lebih tinggi. Tingkat metalitas yang tinggi ini diperkirakan mempunyai pengaruh penting pada pembentukan sistem Tata Surya, karena terbentuknya planet adalah hasil penggumpalan metal.
[12]
[sunting] Medium antarplanet
Disamping cahaya,
matahari juga secara berkesinambungan memancarkan semburan partikel bermuatan (
plasma) yang dikenal sebagai
angin matahari. Semburan partikel ini menyebar keluar kira-kira pada kecepatan 1,5 juta kilometer per jam,
[13] menciptakan atmosfer tipis (
heliosfer) yang merambah Tata Surya paling tidak sejauh 100 SA (lihat juga
heliopause). Kesemuanya ini disebut
medium antarplanet. Badai geomagnetis pada permukaan matahari, seperti
semburan matahari dan
pengeluaran massa korona menyebabkan gangguan pada heliosfer, menciptakan cuaca ruang angkasa.
[14] Struktur terbesar dari heliosfer dinamai
lembar aliran heliosfer, sebuah spiral yang terjadi karena gerak rotasi magnetis matahari terhadap medium antarplanet.
[15][16] Medan magnet bumi mencegah
atmosfer bumi berinteraksi dengan angin matahari.
Venus dan
Mars yang tidak memiliki medan magnet, atmosfernya habis terkikis ke luar angkasa.
[17] Interaksi antara angin matahari dan medan magnet bumi menyebabkan terjadinya
aurora, yang dapat dilihat dekat kutub magnetik bumi.
Heliosfer juga berperan melindungi Tata Surya dari
sinar kosmik yang berasal dari luar Tata Surya. Medan magnet planet-planet menambah peran perlindungan selanjutnya. Densitas
sinar kosmik pada
medium antarbintang dan kekuatan medan magnet matahari mengalami perubahan pada skala waktu yang sangat panjang, sehingga derajat radiasi kosmis di dalam Tata Surya sendiri adalah bervariasi, meski tidak diketahui seberapa besar.
[18]
Medium antarplanet juga merupakan tempat beradanya paling tidak dua daerah mirip piringan yang berisi debu kosmis. Yang pertama, awan debu zodiak, terletak di Tata Surya bagian dalam dan merupakan penyebab cahaya zodiak. Ini kemungkinan terbentuk dari tabrakan dalam
sabuk asteroid yang disebabkan oleh interaksi dengan planet-planet.
[19] Daerah kedua membentang antara 10 SA sampai sekitar 40 SA, dan mungkin disebabkan oleh tabrakan yang mirip tetapi tejadi di dalam
Sabuk Kuiper.
[20][21]
[sunting] Tata Surya bagian dalam
Tata Surya bagian dalam adalah nama umum yang mencakup
planet kebumian dan
asteroid. Terutama terbuat dari
silikat dan logam, obyek dari Tata Surya bagian dalam melingkup dekat dengan
matahari, radius dari seluruh daerah ini lebih pendek dari jarak antara Yupiter dan Saturnus.
[sunting] Planet-planet bagian dalam
Empat
planet bagian dalam atau planet kebumian memiliki komposisi batuan yang padat, hampir tidak mempunyai atau tidak mempunyai bulan dan tidak mempunyai sistem cincin. Komposisi Planet-planet ini terutama adalah mineral bertitik leleh tinggi, seperti silikat yang membentuk kerak dan selubung, dan logam seperti besi dan nikel yang membentuk intinya. Tiga dari empat planet ini (
Venus,
Bumi dan
Mars) memiliki
atmosfer, semuanya memiliki kawah meteor dan sifat-sifat permukaan tektonis seperti gunung berapi dan lembah pecahan. Planet yang letaknya di antara matahari dan bumi (
Merkurius dan
Venus) disebut juga planet inferior.
Merkurius (0,4 SA) adalah planet terdekat dari matahari serta juga terkecil (0,055 massa bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping kawah meteorid yang diketahui adalah (
lobed ridges atau
rupes), kemungkinan terjadi karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya.
[22] Atmosfer Merkurius yang hampir bisa diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari permukaannya karena semburan angin matahari.
[23] Besarnya inti besi dan tipisnya kerak Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesa lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa, dan perkembangan ("akresi") penuhnya terhambat oleh energi awal matahari.
[24][25]
Venus (0,7 SA) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi). Dan seperti
bumi, planet ini memiliki selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan memiliki aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer.
[26] Sejauh ini activitas geologis Venus belum dideteksi, tetapi karena planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.
[27]
Bumi adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat, satu-satunya yang diketahui memiliki activitas geologi dan satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21%
oksigen.
[28] Bumi memiliki satu
satelit,
bulan, satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.
Mars (1,5 SA) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi). Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah
karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi gunung berapi raksasa seperti
Olympus Mons dan lembah retakan seperti
Valles marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang kaya besi.
[29] Mars mempunyai dua satelit alami kecil (
Deimos dan
Phobos) yang diduga merupakan
asteroid yang terjebak gravitasi Mars.
[30]
[sunting] Sabuk asteroid
Sabuk asteroid utama dan asteroid Troya
Asteroid secara umum adalah obyek Tata Surya yang terdiri dari batuan dan mineral logam beku.
[31]
Sabuk asteroid utama terletak di antara orbit
Mars dan
Yupiter, berjarak antara 2,3 dan 3,3 SA dari
matahari, diduga merupakan sisa dari bahan formasi Tata Surya yang gagal menggumpal karena pengaruh gravitasi Yupiter.
[32]
Gradasi ukuran asteroid adalah ratusan kilometer sampai mikroskopis. Semua asteroid, kecuali
Ceres yang terbesar, diklasifikasikan sebagai
badan Tata Surya kecil. Beberapa asteroid seperti
Vesta dan
Hygieia mungkin akan diklasifikasi sebagai
planet kerdil jika terbukti telah mencapai
equilibrium hidrostatik.
[33]
Sabuk asteroid terdiri dari beribu-ribu, mungkin jutaan obyek yang berdiameter satu kilometer.
[34] Meskipun demikian, massa total dari sabuk utama ini tidaklah lebih dari seperseribu massa bumi.
[35] Sabuk utama tidaklah rapat, kapal ruang angkasa secara rutin menerobos daerah ini tanpa mengalami kecelakaan. Asteroid yang berdiameter antara 10 dan 10
-4 m disebut meteorid.
[36]
Ceres (2,77 SA) adalah benda terbesar di sabuk asteroid dan diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Diameternya adalah sedikit kurang dari 1000 km, cukup besar untuk memiliki gravitasi sendiri untuk menggumpal membentuk bundaran. Ceres dianggap sebagai planet ketika ditemukan pada abad ke 19, tetapi di-reklasifikasi menjadi asteroid pada tahun 1850an setelah observasi lebih lanjut menemukan beberapa asteroid lagi.
[37] Ceres direklasifikasi lanjut pada tahun 2006 sebagai planet kerdil.
[sunting] Kelompok asteroid
Asteroid pada sabuk utama dibagi menjadi kelompok dan keluarga asteroid bedasarkan sifat-sifat orbitnya. Bulan asteroid adalah asteroid yang mengedari asteroid yang lebih besar. Mereka tidak mudah dibedakan dari bulan-bulan planet, kadang kala hampir sebesar pasangannya. Sabuk asteroid juga memiliki komet sabuk utama yang mungkin merupakan sumber air bumi.
[38]
Asteroid-asteroid Trojan terletak di titik L
4 atau L
5 Yupiter (daerah gravitasi stabil yang berada di depan dan belakang sebuah orbit planet), sebutan "trojan" sering digunakan untuk obyek-obyek kecil pada
titik langrange dari sebuah planet atau satelit. Kelompok Asteroid Hilda terletak di orbit resonansi 2:3 dari Yupiter, yang artinya kelompok ini mengedari matahari tiga kali untuk setiak dua edaran
Yupiter.
Bagian dalam Tata Surya juga dipenuhi oleh asteroid liar, yang banyak memotong orbit-orbit planet planet bagian dalam.
[sunting] Tata Surya bagian luar
Pada bagian luar dari Tata Surya terdapat gas-gas raksasa dengan satelit-satelitnya yang berukuran planet. Banyak komet berperioda pendek termasuk
Centaurs, juga berorbit di daerah ini. Badan-badan padat di daerah ini mengandung
volatiles yang lebih tinggi (contoh: air, amonia, metan, yang sering disebut es dalam peristilahan ilmu keplanetan) dibandingkan planet batuan di bagian dalam Tata Surya.
[sunting] Planet-planet luar
Raksasa-raksasa gas dalam Tata Surya dan Matahari, berdasarkan skala
Keempat planet luar, atau gas raksasa (yang disebut juga
planet jovian), secara keseluruhan mencakup 99 persen massa yang mengorbit matahari. Jupiter dan Saturnus sebagian besar mengandung
hidrogen dan
helium; Uranus dan Neptunus memiliki proporsi es yang lebih besar. Para astronom mengusulkan bahwa keduanya dikategorikan sendiri sebagai raksasa es.
[39] Keempat gas raksasa ini semuanya memiliki cincin, meski hanya sistem cincin Saturnus yang dapat dilihat dengan mudah dari bumi.
Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi, adalah 2,5 kali massa dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utamanya adalah
hidrogen dan
helium. Sumber panas di dalam Jupiter menyebabkan timbulnya beberapa ciri semi-permanen pada atmosfernya, sebagai contoh pita pita awan dan
Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Jupiter memiliki 63 satelit. Empat yang terbesar,
Ganymede,
Callisto,
Io, dan
Europa menampakan kemiripan dengan planet kebumian, seperti gunung berapi dan inti yang panas.
[40] Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata Surya, berukuran lebih besar dari Merkurius.
Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya, memiliki beberapa kesamaan dengan Jupiter, sebagai contoh komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar 60% volume Jupiter, planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga Jupiter atau 95 kali massa bumi, membuat planet ini sebuah planet yang paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60 satelit yang diketahui sejauh ini (dan 3 yang belum dipastikan) dua di antaranya
Titan dan
Enceladus, menunjukan activitas geologis, meski hampir terdiri hanya dari es saja.
[41] Titan berukuran lebih besar dari
Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang memiliki atmosfer yang cukup berarti.
Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi, adalah planet yang paling ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit. Uranus mengedari matahari dengan bujkuran poros 90 derajad pada
ekliptika. Planet ini memiliki inti yang sangat dingin dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi panas.
[42] Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui, yang terbesar adalah Titania, Oberon, Umbriel, Ariel dan Miranda.
Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus, memiliki 17 kali massa bumi, sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini memancarkan panas dari dalam tetapi tidak sebanyak Jupiter atau Saturnus.
[43] Neptunus memiliki 13 satelit yang diketahui. Yang terbesar,
Triton, geologinya aktif, dan memiliki geyser nitrogen cair.
[44] Triton adalah satu-satunya satelit besar yang orbitnya terbalik arah (
retrogade). Neptunus juga didampingi beberapa planet minor pada orbitnya, yang disebut Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki resonansi 1:1 dengan Neptunus.
Komet adalah badan Tata Surya kecil, biasanya hanya berukuran beberapa kilometer, dan terbuat dari
es volatil. Badan-badan ini memiliki eksentrisitas orbit tinggi, secara umum
perihelion-nya terletak di planet-planet bagian dalam dan letak
aphelion-nya lebih jauh dari
Pluto. Saat sebuah komet memasuki Tata Surya bagian dalam, dekatnya jarak dari matahari menyebabkan permukaan esnya bersumblimasi dan berionisasi, yang menghasilkan koma, ekor gas dan debu panjang, yang sering dapat dilihat dengan mata telanjang.
Komet berperioda pendek memiliki kelangsungan orbit kurang dari dua ratus tahun. Sedangkan komet berperioda panjang memiliki orbit yang berlangsung ribuan tahun. Komet berperioda pendek dipercaya berasal dari
Sabuk Kuiper, sedangkan komet berperioda panjang, seperti
Hale-bopp, berasal dari
Awan Oort. Banyak kelompok komet, seperti
Kreutz Sungrazers, terbentuk dari pecahan sebuah induk tunggal.
[45] Sebagian komet berorbit hiperbolik mungking berasal dari luar Tata Surya, tetapi menentukan jalur orbitnya secara pasti sangatlah sulit.
[46] Komet tua yang bahan volatilesnya telah habis karena panas matahari sering dikategorikan sebagai
asteroid.
[47]
Centaurs adalah benda-benda es mirip komet yang poros semi-majornya lebih besar dari
Yupiter (5,5 SA) dan lebih kecil dari Neptunus (30 SA). Centaur terbesar yang diketahui adalah,
10199 Chariklo, berdiameter 250 km.
[48] Centaur temuan pertama,
2060 Chiron, juga diklasifikasikan sebagai komet (95P) karena memiliki koma sama seperti komet kalau mendekati matahari.
[49] Beberapa astronom mengklasifikasikan Centaurs sebagai
obyek sabuk Kuiper sebaran-ke-dalam, seiring dengan sebaran keluar yang bertempat di
piringan tersebar (outward-scattered residents of the scattered disc).
[50]
[sunting] Daerah trans-Neptunus
Diagram yang menunjukkan pembagian sabuk Kuiper
Daerah yang terletak jauh melebihi Neptunus, atau daerah trans-Neptunus, sebagian besar belum dieksplorasi. Menurut dugaan daerah ini sebagian besar terdiri dari dunia-dunia kecil (yang terbesar memiliki diameter seperlima bumi dan bermassa jauh lebih kecil dari bulan) dan terutama mengandung batu dan es. Daerah ini juga dikenal sebagai
daerah luar Tata Surya, meskipun berbagai orang menggunakan istilah ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk asteroid.
[sunting] Sabuk Kuiper
Sabuk Kuiper adalah sebuah cincin raksasa mirip dengan sabuk asteroid, tetapi komposisi utamanya adalah es. Sabuk ini terletak antara 30 dan 50 SA, dan terdiri dari
badan Tata Surya kecil. Meski demikian, obyek Kuiper yang terbesar, seperti
Quaoar,
Varuna, dan
Orcus, mungkin akan diklasifikasikan sebagai
planet kerdil. Para ilmuwan memperkirakan terdapat sekitar 100.000 obyek sabuk Kuiper yang berdiameter lebih dari 50 km, tetapi diperkirakan massa total sabuk Kuiper hanya sepersepuluh massa bumi.
[51] Banyak obyek Kuiper memiliki satelit ganda dan kebanyakan memiliki orbit di luar bidang eliptika.
Sabuk Kuiper secara kasar bisa dibagi menjadi "sabuk klasik" dan resonansi. Resonansi adalah orbit yang terkait pada Neptunus (contoh: dua orbit untuk setiap tiga orbit Neptunus atau satu untuk setiap dua). Resonansi yang pertama bermula pada Neptunus sendiri. Sabuk klasik terdiri dari obyek yang tidak memiliki resonansi dengan Neptunus, dan terletak sekitar 39,4 SA sampai 47,7 SA.
[52] Anggota dari sabuk klassik diklasifikasikan sebagai cubewanos, setelah anggota jenis pertamanya ditemukan (15760) 1992QB1
[53]
[sunting] Pluto dan Charon
Pluto dan ketiga bulannya
Pluto (rata-rata 39 SA), sebuah planet kerdil, adalah obyek terbesar sejauh ini di sabuk Kuiper. Ketika ditemukan pada tahun 1930, benda ini dianggap sebagai planet yang ke sembilan, definisi ini diganti pada tahun 2006 dengan diangkatnya definisi formal planet. Pluto memiliki kemiringan orbit cukup eksentrik (17 derajat dari bidang ekliptika) dan berjarak 29,7 SA dari matahari pada titik prihelion (sejarak orbit Neptunus) sampai 49,5 SA pada titik aphelion.
Tidak jelas apakah
Charon, bulan Pluto yang terbesar, akan terus diklasifikasikan sebagai satelit atau sebuah planet kerdil juga. Pluto dan Charon, keduanya mengedari titik barycenter gravitas di atas permukaanya, yang membuat Pluto-Charon sebuah sistem ganda. Dua bulan yang jauh lebih kecil Nix dan Hydra juga mengedari Pluto dan Charon. Pluto terletak pada sabuk resonan dan memiliki 3:2 resonansi dengan Neptunus, yang berarti Pluto mengedari matahari dua kali untuk setiap tiga edaran Neptunus. Obyek sabuk Kuiper yang orbitnya memiliki resonansi yang same disebut
plutinos.
[54]
[sunting] Haumea dan Makemake
Haumea (rata-rata 43,34 SA) dan
Makemake (rata-rata 45,79 SA) adalah dua obyek terbesar sejauh ini di dalam sabuk Kuiper klasik. Haumea adalah sebuah obyek berbentuk telur dan memiliki dua bulan. Makemake adalah obyek paling cemerlang di sabuk Kuiper setelah Pluto. Pada awalnya dinamai 2003 EL61 dan 2005 FY9, pada tahun 2008 diberi nama dan status sebagai planet kerdil. Orbit keduanya berinklinasi jauh lebih membujur dari Pluto (28° dan 29°)
[55] dan lain seperti
Pluto, keduanya tidak dipengaruhi oleh
Neptunus, sebagai bagian dari kelompok Obyek sabuk Kuiper klasik.
[sunting] Piringan tersebar
Hitam: tersebar; biru: klasik; hijau: resonan
Piringan tersebar menindih sabuk Kuiper dan menyebar keluar jauh lebih luas. Daerah ini diduga merupakan sumber komet berperioda pendek. Obyek piringan tersebar diduga terlempar ke orbit yang tidak menentu karena pengaruh gravitasi dari gerakan migrasi awal Neptunus. Kebanyakan
Obyek piringan tersebar memiliki perihelion di dalam sabuk Kuiper dan apehelion hampir sejauh 150 SA dari matahari. Orbit OPT juga memiliki inklinasi tinggi pada bidang ekleptika dan sering hampir bersudut siku-siku. Beberapa astronom menggolongkan piringan tersebar hanya sebagai bagian dari sabuk Kuiper dan menjuluki piringan tersebar sebagai
Obyek Sabuk Kuiper Tersebar [56]
Eris (rata-rata 68 SA) adalah obyek piringan tersebar terbesar sejauh ini dan menyebabkan mulainya debat tentang definisi planet,karena Eris hanya 5%lebih besar dari Pluto dan memiliki perkiraan diameter sekitar 2400 km. Eris adalah planet kerdil terbesar yang diketahui dan memiliki satu bulan Dysnomia.
[57] Seperti Pluto, orbitnya memiliki eksentrisitas tinggi, dengan titik perihelion 38.2 SA (mirip jarak Pluto ke /matahari) dan titik aphelion 97,6 SA dengan bidang ekliptika sangat membujur.
[sunting] Daerah terjauh
Titik tempat Tata Surya berakhir dan ruang antar bintang mulai tidaklah persis terdefinisi. Batasan-batasan luar ini terbentuk dari dua gaya tekan yang terpisah: angin matahari dan gravitasi matahari. Batasan terjauh pengaruh angin matahari kira kira berjarak empat kali jarak Pluto dan matahari.
Heliopause ini disebut sebagai titik permulaan medium antar bintang. Akan tetapi
Bola Roche Matahari, jarak efektif pengaruh gravitasi matahari, diperkirakan mencakup sekitar seribu kali lebih jauh.
Heliopause dibagi menjadi dua bagian terpisah. Awan angin yang bergerak pada kecepatan 400 km/detik sampai menabrak plasma dari medium ruangantarbintang. Tabrakan ini terjadi pada benturan terminasi yang kira kira terletak di 80-100 SA dari matahari pada daerah lawan angin dan sekitar 200 SA dari matahari pada daerah searah jurusan angin. Kemudian angin melambat dramatis, memampat dan berubah menjadi kencang, membentuk struktur oval yang dikenal sebagai
heliosheath, dengan kelakuan mirip seperki ekor komet, mengulur keluar sejauh 40 SA di bagian arah lawan angin dan berkali-kali lipat lebih jauh pada sebelah lainnya. Voyager 1 dan Voyager 2 dilaporkan telah menembus benturan terminasi ini dan memasuki
heliosheath, pada jarak 94 dan 84 SA dari matahari. Batasan luar dari heliosfer,
heliopause, adalah titik tempat angin matahari berhenti dan ruang antar bintang bermula.
Bentuk dari ujung luar heliosfer kemungkinan dipengaruhi dari dinamika fluida dari interaksi medium antar bintang dan juga medan magnet matahari yang mengarah di sebelah selatan (sehingga memberi bentuk tumpul pada hemisfer utara dengan jarak 9 SA, dan lebih jauh daripada hemisfer selatan. Selebih dari
heliopause, pada jarak sekitar 230 SA, terdapat benturan busur, jaluran ombak plasma yang ditinggalkan matahari seiring edarannya berkeliling di Bima Sakti.
Sejauh ini belum ada kapal luar angkasa yang melewati
heliopause, sehingga tidaklah mungkin mengetahui kondisi ruang antar bintang lokal dengan pasti. Diharapkan satelit NASA voyager akan menembus
heliopause pada sekitar dekade yang akan datang dan mengirim kembali data tingkat radiasi dan angin matahari. Dalam pada itu, sebuah tim yang dibiayai NASA telah mengembangkan konsep "Vision Mission" yang akan khusus mengirimkan satelit penjajak ke heliosfer.
Secara hipotesa,
Awan Oort adalah sebuah massa berukuran raksasa yang terdiri dari bertrilion-trillion obyek-obyek es, dipercaya merupakan sumber komet berperioda panjang. Awan ini menyelubungi
matahari pada jarak sekitar 50,000 (sekitar 1 tahun cahaya) sampai sejauh 100,000 (1,87 tahun cahaya). Daerah ini dipercaya mengandung
komet yang terlempar dari bagian dalam Tata Surya karena interaksi dengan planet-planet bagian luar. Obyek Awan Oort bergerak sangat lambat dan bisa digoncangkan oleh situasi-situasi langka seperti tabrakan, effek gravitasi dari laluan
bintang, atau gaya pasang galaksi, gaya pasang yang didorong
Bima Sakti.
[58][59]
90377 Sedna (rata-rata 525,86 SA) adalah sebuah benda kemerahan mirip Pluto dengan orbit raksasa yang sangat eliptis, sekitar 76 SA pada perihelion dan 928 SA pada aphelion dan berjangka orbit 12.050 tahun. Mike Brown, penemu obyek ini pada tahun 2003, menegaskan bahwa Sedna tidak merupakan bagian dari
piringan tersebar ataupun sabuk Kuiper karena perihelionnya terlalu jauh untuk dari pengaruh migrasi Neptunus. Dia dan beberapa astronom lainnya berpendapat bahwa Sedna adalah obyek pertama dari sebuah kelompok baru, yang mungkin juga mencakup 2000 CR105. Sebuah benda bertitik perihelion pada 45 SA, aphelion pada 415 SA, dan berjangka orbit 3,420 thaun. Brown menjuluki kelompok ini "Awan Oort bagian dalam", karena mungkin terbentuk melalui process yang mirip, meski jauh lebih dekat ke matahari. Kemungkinan besar Sedna adalah sebuah planet kerdil, meski bentuk kebulatanya masih harus ditentukan dengan pasti.
[sunting] Batasan-batasan
Banyak hal dari Tata Surya kita masih belum diketahui. Medan gravitasi matahari diperkirakan mendominasi gaya gravitasi bintang-bintang sekeliling sejauh dua tahun cahaya (125.000 SA). Perkiraan bawah radius awan Oort, di tangan yang lain, tidak lebih besar dari 50.000 SA.
[60] Sekalipun setelah penemuan Sedna, daera antara
Sabuk Kuiper dan
Awan Oort, sebuah daerah yang memiliki radius puluhan ribu SA, bisa dibilang belum dipetakan. Selain itu juga ada studi yang berjalan mempelajari daerah antara
Merkurius dan
matahari.
[61] Obyek-obyek mungkin masih akan ditemukan di daerah yang belum dipetakan.
Perbandingan beberapa ukuran penting planet-planet:
| Karakteristik | Merkurius | Venus | Bumi | Mars | Jupiter | Saturnus | Uranus | Neptunus |
| Jarak orbit (juta km) (SA) | 57,91 (0,39) | 108,21 (0,72) | 149,60 (1,00) | 227,94 (1,52) | 778,41 (5,20) | 1.426,72 (9,54) | 2.870,97 (19,19) | 4.498,25 (30,07) |
| Waktu edaran (tahun) | 0,24 (88 hari) | 0,62 (224 hari) | 1,00 | 1,88 | 11,86 | 29,45 | 84,02 | 164,79 |
| Jangka rotasi | 58,65 hari | 243,02 hari | 23 jam 56 menit | 24 jam 37 menit | 9 jam 55 menit | 10 jam 47 menit | 17 jam 14 menit | 16 jam 7 menit |
| Eksentrisitas edaran | 0,206 | 0,007 | 0,017 | 0,093 | 0,048 | 0,054 | 0,047 | 0,009 |
| Sudut inklinasi orbit (°) | 7,00 | 3,39 | 0,00 | 1,85 | 1,31 | 2,48 | 0,77 | 1,77 |
| Sudut inklinasi ekuator terhadap orbit (°) | 0,00 | 177,36 | 23,45 | 25,19 | 3,12 | 26,73 | 97,86 | 29,58 |
| Diameter ekuator (km) | 4.879 | 12.104 | 12.756 | 6.805 | 142.984 | 120.536 | 51.118 | 49.528 |
| Massa (dibanding Bumi) | 0,06 | 0,81 | 1,00 | 0,15 | 317,8 | 95,2 | 14,5 | 17,1 |
| Kepadatan menengah (g/cm³) | 5,43 | 5,24 | 5,52 | 3,93 | 1,33 | 0,69 | 1,27 | 1,64 |
Suhu permukaan
min.
menengah
maks. |
-173 °C
+167 °C
+427 °C |
+437 °C
+464 °C
+497 °C |
-89 °C
+15 °C
+58 °C |
-133 °C
-55 °C
+27 °C |
-108 °C
|
-139 °C
|
-197 °C
|
-201 °C
|
[sunting] Konteks galaksi
Lokasi Tata Surya di dalam galaksi Bima Sakti
Tata Surya terletak di galaksi
Bima Sakti, sebuah galaksi spiral yang berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya dan memiliki sekitar 200 milyar
bintang.
[62] Matahari berlokasi di salah satu lengan spiral galaksi yang disebut Lengan Orion.
[63] Letak
Matahari berjarak antara 25,000 dan 28,000 tahun cahaya dari pusat galaksi, dengan kecepatan orbit mengelilingi pusat galaksi sekitar 2200 kilometer per detik. Setiap revolusinya berjangka 225-250 juta tahun. Waktu revolusi ini dikenal sebagai tahun galaksi Tata Surya.
[64] Apex matahari, arah jalur matahari di ruang semesta, dekat letaknya dengan
konstelasi Herkules terarah pada posisi akhir bintang
Vega.
[65]
Lokasi Tata Surya di dalam galaksi berperan penting dalam evolusi kehidupan di
Bumi. Bentuk orbit bumi adalah mirip lingkaran dengan kecepatan hampir sama dengan lengan spiral galaksi, karenanya bumi sangat jarang menerobos jalur lengan. Lengan spiral galaksi memiliki konsentrasi supernova tinggi yang berpotensi bahaya sangat besar terhadap kehidupan di Bumi. Situasi ini memberi Bumi jangka stabilitas yang panjang yang memungkinkan evolusi kehidupan.
[66] Tata Surya juga terletak jauh dari daerah padat bintang di pusak galaksi. Di daerah pusat, tarikan gravitasi bintang-bintang yang berdekatan bisa menggoyang benda-benda di
Awan Oort dan menembakan komet-komet ke bagian dalam Tata Surya. Ini bisa menghasilkan potensi tabrakan yang merusak kehidupan di Bumi. Intensitas radiasi dari pusat galaksi juga mempengaruhi perkembangan bentuk hidup tingkat tinggi. Walaupun demikian, para ilmuwan berhipotesa bahwa pada lokasi Tata Surya sekarang ini
supernova telah mempengaruhi kehidupan di Bumi pada 35.000 tahun terakhir dengan melemparkan pecahan-pecahan inti bintang ke arah matahari dalam bentuk debu radiasi atau bahan yang lebih besar lainnya, seperti berbagai benda mirip
komet.
[67]
[sunting] Daerah lingkungan sekitar
Daerah lingkuan terdekat sekitar Tata Surya dinamai
Awan Antarbintang Lokal. Daerah ini berawan padat, yang merupakan bagian daerah diketahui gersang bernama
Gelembung Lokal. Daerah Gelembung Lokal ini berbentuk mirip jam pasir pada medium antarbintang dan berukuran sekitar 300 tahun cahaya. Gelembung ini penuh ditebari
plasma bersuhu tinggi yang mungkin berasal dari beberapa supernova yang belum lama terjadi.
[68]
Di dalam jarak sepuluh tahun cahaya (95 triliun km) dari matahari, jumlah bintang relatif sedikit. Bintang yang terdekat adalah sistem kembar tiga
Alpha Centauri, yang berjarak 4,4 tahun cahaya. Alpha Centauri A dan B merupakan bintang ganda mirip dengan matahari, sedangkan Centauri C adalah kerdil merah (disebut juga
Proxima Centauri) yang mengedari kembaran ganda pertama pada jarak 0,2 tahun cahaya. Bintang-bintang terdekat berikutnya adalah sebuah kerdil merah yang dinamai
Bintang Bernad (5,9 tahun cahaya),
Wolf 359 (7,8 tahun cahaya) dan
Lalande 21185 (8,3 tahun cahaya). Bintang terbesar dalam jarak sepuluh tahun cahaya adalah
Sirius, sebuah bintang cemerlang dikategori 'urutan utama' kira-kira bermassa dua kali massa matahari, dan dikelilingi oleh sebuah kerdil putih bernama Sirius B. Keduanya berjarak 8,6 tahun cahaya. Sisa sistem selebihnya yang terletak di dalam jarak 10 tahun cahaya adalah sistem bintang ganda kerdil merah
Luyten 726-8 (8,7 tahun cahaya) dan sebuah kerdial merah bernama
Ross 154 (9,7 tahun cahaya).
[69] Bintang tunggal terdekat yang mirip matahari adalah
Tau Ceti, yang terletak 11,9 tahun cahaya. Bintang ini kira-kira berukuran 80% berat matahari, tetapi kecemerlangannya (
luminositas) hanya 60%.
[70] Planet luar Tata Surya terdekat dari matahari, yang diketahui sejauh ini adalah di bintang
Epsilon Eridani, sebuah bintang yang sedikit lebih pudar dan lebih merah dibandingkan mathari. Letaknya sekitar 10,5 tahun cahaya. Planet bintang ini yang sudah dipastikan , bernama
Epsilon Eridani b, kurang lebih berukuran 1,5 kali massa
Yupiter dan mengelilingi induk bintangnya dengan jarak 6,9 tahun cahaya.
[71]
- ^ Kapitalisasi istilah ini beragam. Persatuan Astronomi Internasional, badan yang mengurusi masalah penamaan astronomis, menyebutkan bahwa seluruh obyek astronomi dikapitalisasi namanya (Tata Surya). Namun, istilah ini juga sering ditemui dalam bentuk huruf kecil (tata surya)
- ^ Lihat Daftar bulan untuk semua satelit alami dari delapan planet dan lima planet kerdil.
- ^ Massa Tata Surya tidak termasuk Matahari, Jupiter, dan Saturnus, dapat dihitung dengan menambahkan semua massa obyek terbesar yang dihitung dan menggunakan perhitungan kasar untuk massa awan Oort (sekitar 3 kali massa Bumi),,[72] sabuk Kuiper (sekitar 0,1 kali massa Bumi)[51] dan sabuk asteroid (sekitar 0,0005 kali massa Bumi)[35] dengan total massa ~37 kali massa Bumi, atau 8,1 persen massa di orbit di sekitar Matahari. Jika dikurangi dengan massa Uranus dan Neptunus (keduanya ~31 kali massa Bumi), sisanya ~6 kali massa Bumi merupakan 1,3 persen dari massa keseluruhan.
- ^ Astronom mengukur jarak di dalam Tata Surya dengan satuan astronomi (SA). Satu SA jaraknya sekitar jarak rata-rata Matahari dan Bumi, atau 149.598.000 km. Pluto berjarak sekitar 38 SA dari Matahari, Jupiter 5,2 SA. Satu tahun cahaya adalah 63.240 SA..
- ^ M Woolfson (2000). "The origin and evolution of the solar system". Astronomy & Geophysics 41: 1.12. DOI:10.1046/j.1468-4004.2000.00012.x.
- ^ nineplanets.org. An Overview of the Solar System. Diakses pada 15 Februari 2007
- ^ Amir Alexander. (2006). New Horizons Set to Launch on 9-Year Voyage to Pluto and the Kuiper Belt. The Planetary Society. Diakses pada 8 November 2006
- ^ a b c "The Final IAU Resolution on the definition of "planet" ready for voting", IAU, 2006-08-24. Diakses pada 2 Maret 2007.
- ^ Dwarf Planets and their Systems. Working Group for Planetary System Nomenclature (WGPSN). U.S. Geological Survey. Diakses pada 13 Juli 2008
- ^ Plutoid chosen as name for Solar System objects like Pluto. International Astronomical Union (News Release - IAU0804). Diakses pada 11 Juni 2008
- ^ Feaga, L (2007). "Asymmetries in the distribution of H2O and CO2 in the inner coma of Comet 9P/Tempel 1 as observed by Deep Impact". Icarus 190: 345. DOI:10.1016/j.icarus.2007.04.009.
- ^ Michael Zellik (2002). Astronomy: The Evolving Universe, 9th, Cambridge University Press, 240. ISBN 0521800900. OCLC 223304585 46685453.
- ^ Smart, R. L.; Carollo, D.; Lattanzi, M. G.; McLean, B.; Spagna, A.. (2001). The Second Guide Star Catalogue and Cool Stars. Perkins Observatory. Diakses pada 26 Desember 2006
- ^ Nir J. Shaviv (2003). "Towards a Solution to the Early Faint Sun Paradox: A Lower Cosmic Ray Flux from a Stronger Solar Wind". Journal of Geophysical Research 108: 1437. DOI:10.1029/2003JA009997 Diakses pada 26 Januari 2009.
- ^ T. S. van Albada, Norman Baker (1973). "On the Two Oosterhoff Groups of Globular Clusters". Astrophysical Journal 185: 477–498. DOI:10.1086/152434.
- ^ Charles H. Lineweaver. An Estimate of the Age Distribution of Terrestrial Planets in the Universe: Quantifying Metallicity as a Selection Effect. University of New South Wales. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ Solar Physics: The Solar Wind. Marshall Space Flight Center. Diakses pada 3 Oktober 2006
- ^ Phillips, Tony The Sun Does a Flip. Science@NASA. Diakses pada 4 Februari 2007
- ^ A Star with two North Poles, April 22, 2003, Science @ NASA
- ^ Riley, Pete; Linker, J. A.; Mikić, Z., "Modeling the heliospheric current sheet: Solar cycle variations", (2002) Journal of Geophysical Research (Space Physics), Volume 107, Issue A7, pp. SSH 8-1, CiteID 1136, DOI 10.1029/2001JA000299. (Full text)
- ^ Lundin, Richard (2001-03-09). "Erosion by the Solar Wind". Science 291 (5510): 1909. DOI:10.1126/science.1059763 abstract full text.
- ^ Langner, U. W., M.S. Potgieter (2005). "Effects of the position of the solar wind termination shock and the heliopause on the heliospheric modulation of cosmic rays". Advances in Space Research 35 (12): 2084–2090. DOI:10.1016/j.asr.2004.12.005 Diakses pada 11 Februari 2007.
- ^ (1998). Long-term Evolution of the Zodiacal Cloud. Diakses pada 3 Februari 2007
- ^ (2003). ESA scientist discovers a way to shortlist stars that might have planets. ESA Science and Technology. Diakses pada 3 Februari 2007
- ^ Landgraf, M., Liou, J.-C.; Zook, H. A.; Grün, E. (May 2002). "Origins of Solar System Dust beyond Jupiter". The Astronomical Journal 123 (5): 2857–2861. DOI:10.1086/339704 Diakses pada 9 Februari 2007.
- ^ Schenk P., Melosh H.J. (1994), Lobate Thrust Scarps and the Thickness of Mercury's Lithosphere, Abstracts of the 25th Lunar and Planetary Science Conference, 1994LPI....25.1203S
- ^ Bill Arnett. (2006). Mercury. The Nine Planets. Diakses pada 14 September 2006
- ^ Benz, W., Slattery, W. L., Cameron, A. G. W. (1988), Collisional stripping of Mercury's mantle, Icarus, v. 74, p. 516–528.
- ^ Cameron, A. G. W. (1985), The partial volatilization of Mercury, Icarus, v. 64, p. 285–294.
- ^ Mark Alan Bullock. "The Stability of Climate on Venus" (PDF). Southwest Research Institute. Diakses pada 26 Desember 2006.
- ^ Paul Rincon. (1999). Climate Change as a Regulator of Tectonics on Venus. (PDF) Johnson Space Center Houston, TX, Institute of Meteoritics, University of New Mexico, Albuquerque, NM. Diakses pada 19 November 2006
- ^ Anne E. Egger, M.A./M.S.. Earth's Atmosphere: Composition and Structure. VisionLearning.com. Diakses pada 26 Desember 2006
- ^ David Noever. (2004). Modern Martian Marvels: Volcanoes?. NASA Astrobiology Magazine. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ Scott S. Sheppard, David Jewitt, and Jan Kleyna. (2004). A Survey for Outer Satellites of Mars: Limits to Completeness. The Astronomical Journal. Diakses pada 26 Desember 2006
- ^ Are Kuiper Belt Objects asteroids? Are large Kuiper Belt Objects planets?. Cornell University. Diakses pada 1 Maret 2009
- ^ Petit, J.-M.; Morbidelli, A.; Chambers, J. (2001). "The Primordial Excitation and Clearing of the Asteroid Belt" (PDF). Icarus 153: 338–347. DOI:10.1006/icar.2001.6702 Diakses pada 22 Maret 2007.
- ^ (2006). IAU Planet Definition Committee. International Astronomical Union. Diakses pada 1 Maret 2009
- ^ (2002). New study reveals twice as many asteroids as previously believed. ESA. Diakses pada 23 Juni 2006
- ^ a b Krasinsky, G. A., Pitjeva, E. V.; Vasilyev, M. V.; Yagudina, E. I. (July 2002). "Hidden Mass in the Asteroid Belt". Icarus 158 (1): 98–105. DOI:10.1006/icar.2002.6837.
- ^ Beech, M., Duncan I. Steel (September 1995). "On the Definition of the Term Meteoroid". Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society 36 (3): 281–284 Diakses pada 31 Agustus 2006.
- ^ History and Discovery of Asteroids. (DOC) NASA. Diakses pada 29 Agustus 2006
- ^ Phil Berardelli. (2006). Main-Belt Comets May Have Been Source Of Earths Water. SpaceDaily. Diakses pada 23 Juni 2006
- ^ Jack J. Lissauer, David J. Stevenson. (2006). Formation of Giant Planets. (PDF) NASA Ames Research Center; California Institute of Technology. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ Pappalardo, R T. (1999). Geology of the Icy Galilean Satellites: A Framework for Compositional Studies. Brown University. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ J. S. Kargel. (1994). Cryovolcanism on the icy satellites. U.S. Geological Survey. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ Hawksett, David; Longstaff, Alan; Cooper, Keith; Clark, Stuart. (2005). 10 Mysteries of the Solar System. Astronomy Now. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ Podolak, M.; Reynolds, R. T.; Young, R.. (1990). Post Voyager comparisons of the interiors of Uranus and Neptune. NASA, Ames Research Center. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ Duxbury, N.S., Brown, R.H.. (1995). The Plausibility of Boiling Geysers on Triton. Beacon eSpace. Diakses pada 16 Januari 2006
- ^ Sekanina, Zdenek (2001). "Kreutz sungrazers: the ultimate case of cometary fragmentation and disintegration?". Publications of the Astronomical Institute of the Academy of Sciences of the Czech Republic 89 p.78–93.
- ^ Królikowska, M. (2001). "A study of the original orbits of hyperbolic comets". Astronomy & Astrophysics 376 (1): 316–324. DOI:10.1051/0004-6361:20010945 Diakses pada 2 Januari 2007.
- ^ Fred L. Whipple. The activities of comets related to their aging and origin. Diakses pada 26 Desember 2006
- ^ John Stansberry, Will Grundy, Mike Brown, Dale Cruikshank, John Spencer, David Trilling, Jean-Luc Margot. (2007). Physical Properties of Kuiper Belt and Centaur Objects: Constraints from Spitzer Space Telescope. Diakses pada 21 September 2008
- ^ Patrick Vanouplines. (1995). Chiron biography. Vrije Universitiet Brussel. Diakses pada 23 Juni 2006
- ^ List Of Centaurs and Scattered-Disk Objects. IAU: Minor Planet Center. Diakses pada 2 April 2007
- ^ a b Audrey Delsanti and David Jewitt. (2006). The Solar System Beyond The Planets. (PDF) Institute for Astronomy, University of Hawaii. Diakses pada 3 Januari 2007
- ^ M. W. Buie, R. L. Millis, L. H. Wasserman, J. L. Elliot, S. D. Kern, K. B. Clancy, E. I. Chiang, A. B. Jordan, K. J. Meech, R. M. Wagner, D. E. Trilling. (2005). Procedures, Resources and Selected Results of the Deep Ecliptic Survey. Lowell Observatory, University of Pennsylvania, Large Binocular Telescope Observatory, Massachusetts Institute of Technology, University of Hawaii, University of California at Berkeley. Diakses pada 7 September 2006
- ^ E. Dotto1, M.A. Barucci2, and M. Fulchignoni. Beyond Neptune, the new frontier of the Solar System. (PDF) Diakses pada 26 Desember 2006
- ^ Fajans, J., L. Frièdland (October 2001). "Autoresonant (nonstationary) excitation of pendulums, Plutinos, plasmas, and other nonlinear oscillators". American Journal of Physics 69 (10): 1096–1102. DOI:10.1119/1.1389278 abstract full text.
- ^ Marc W. Buie. Orbit Fit and Astrometric record for 136472. SwRI (Space Science Department). Diakses pada 13 Juli 2008
- ^ David Jewitt. (2005). The 1000 km Scale KBOs. University of Hawaii. Diakses pada 16 Juli 2006
- ^ Mike Brown. (2005). The discovery of
2003 UB313 Eris, the 10th planet largest known dwarf planet.. CalTech. Diakses pada 15 September 2006
- ^ Stern SA, Weissman PR.. (2001). Rapid collisional evolution of comets during the formation of the Oort cloud.. Space Studies Department, Southwest Research Institute, Boulder, Colorado. Diakses pada 19 November 2006
- ^ Bill Arnett. (2006). The Kuiper Belt and the Oort Cloud. nineplanets.org. Diakses pada 23 Juni 2006
- ^ T. Encrenaz, JP. Bibring, M. Blanc, MA. Barucci, F. Roques, PH. Zarka (2004). The Solar System: Third edition. Springer, 1.
- ^ Durda D.D.; Stern S.A.; Colwell W.B.; Parker J.W.; Levison H.F.; Hassler D.M.. (2004). A New Observational Search for Vulcanoids in SOHO/LASCO Coronagraph Images. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ A.D. Dolgov. (2003). Magnetic fields in cosmology. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ R. Drimmel, D. N. Spergel. (2001). Three Dimensional Structure of the Milky Way Disk. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ Leong, Stacy (2002). Period of the Sun's Orbit around the Galaxy (Cosmic Year. The Physics Factbook. Diakses pada 2 April 2007
- ^ C. Barbieri. (2003). Elementi di Astronomia e Astrofisica per il Corso di Ingegneria Aerospaziale V settimana. IdealStars.com. Diakses pada 12 Februari 2007
- ^ Leslie Mullen. (2001). Galactic Habitable Zones. Astrobiology Magazine. Diakses pada 23 Juni 2006
- ^ (2005). Supernova Explosion May Have Caused Mammoth Extinction. Physorg.com. Diakses pada 2 Februari 2007
- ^ Near-Earth Supernovas. NASA. Diakses pada 23 Juli 2006
- ^ Stars within 10 light years. SolStation. Diakses pada 2 April 2007
- ^ Tau Ceti. SolStation. Diakses pada 2 April 2007
- ^ (2006). HUBBLE ZEROES IN ON NEAREST KNOWN EXOPLANET. Hubblesite.
- ^ Alessandro Morbidelli. (2006). Origin and dynamical evolution of comets and their reservoirs. CNRS, Observatoire de la Côte d’Azur. Diakses pada 3 Agustus 2007
[sunting] Pranala luar